Masih butuhkah gizi untuk otak ?

Selasa, 16 Agustus 2011 14:16:32 - oleh : admin
Rating: 3.2/10 (20 votes cast)
Share |

Masih butuhkah gizi untuk otak?


Apabila tubuh selalu membutuhkan gizi, namun gizi tersebut hanya untuk kepentingan pertumbuhan tubuh. 


Justru  yang lebih penting adalah pertumbuhan pemikiran intelektual dari otak kiri dan kanan kita……


 


Suatu siang yang tidak begitu terik, tiba-tiba saya berhasrat untuk mampir kesebuah gerai makanan Eropa. Semacam selera anak muda-lah.. pizza, makanan yang datang dari negeri pendisain kendaraan scooter itu, Italia.. ya makanan Italia. Betapa lahap saya melihat anak-anak muda dari usia SMP hingga mahasiswa semester-semester awal memakan roti kering berdekorasi daging sapi atau ikan laut tersebut. Saya jadi semakin terhanyut saat salah seorang cewek yang mulutnya dipenuhi oleh kunyahan pizza dan tangannya sedang memotong keju mozarela dengan jepitan garpu dan pisau potong, asik serta nampak bersemangat ngobrolnya. Sambil tersenyum saya jadi teringat ke masa muda dulu yang suka berhura-hura dan mentraktir teman-teman, mungkin sama dengan mereka yang siang itu menikmati pizza bersama para sahabatnya. 


Namun pizza tetap saja pizza, makanan yang selalu menjadi isi perut lalu berakhir menjadi barang terbuang tanpa arti. Bagaimana pun pizza adalah makanan bergizi untuk tubuh, tapi sejauh ini otak pun perlu gizi untuk berpikir. Lalu gizi macam mana yang diperlukan oleh otak? Jelas bukan makanan, tapi buku yang akan mengisi rongga intelektual yang ada di dalam batok kepala kita. Coba sekarang kita bandingkan tentang harga, sekaligus nilai nominal yang kita rogoh dari kocek ini. Berapa harga sepotong pizza dan harga sebuah buku, lantas hasil yang didapat dari buku dan pizza tadi. Ini bukan berarti makan pizza adalah haram lho….


Apabila kita bookoholick, membeli buku merupakan kebutuhan layaknya makanan yang mengenyangkan otak. Setelah kenyang munculah “kotoran-kotoran” yang berwujud ide maupun wacana baru yang bakal tertuang dalam sebuah karya tulis yang bisa berbentuk puisi, lirik lagu, atau kembali lagi menjadi sebuah buku dengan wujud yang berbeda. Mungkin lebih kongkret atau kontekstual. Di sinilah hebatnya bila kita gemar membaca. Pasti kita akan menjadi manusia-manusia literer yang mampu berpikir intelektual, tidak mudah dihasut pun terkecoh oleh sikap enviropment, berwawasan luas, kritis dalam menyikapi berbagai hal, cara memandang segala sesuatu selalu objektif dan apa adanya bukan bagaimana tampilannya, cara bicara yang fokus dan terstruktur.


 


OTAK MANUSIA


Perlu diketahui, bahwa minat baca dan daya beli masyarakat Jawa Timur terhadap sebuah buku sangatlah rendah sekali. Hal ini dapat dilihat dari hasil penjualan buku di sebuah toko buku terkenal di sudut kota Surabaya dan Malang misalnya. Di sebuah rak terdapat salah satu judul buku yang dijajar sebanyak 10 eksemplar, namun ironisnya, buku tersebut belum juga habis dalam kurun waktu  satu tahun.


Fenomena di atas seakan memperlihatkan kepada kita bahwa masyarakat kita (baca; Surabaya) ternyata lebih mimilih membelanjakan uangnya untuk membeli makanan dari pada membeli buku. Sebenarnya apa yang menghinggapi pikiran masyarakat kita sehingga mereka tidak gemar membaca? Apakah ini merupakan paradigma "Wah, boring deh membaca buku yang tebal-tebal itu." Atau mungkin begini: "Setiap kali membaca buku ilmiah, saya selalu ngantuk." Lantas solusinya, "Saya pilih nonton sinetron aja deh ketimbang baca buku”. Jika itu adalah paradigma jaman ini, ada sedikit tips supaya kita gemar membaca yaitu; pertama anggap saja buku sebagai makanan favorit kita, kedua anggap buku sebagai camilan layaknya kacang goreng. Sehingga dengan cara dibaca sedikit demi sedikit, halaman perhalaman, akhirnya toh kenyang juga. Nah! Lantas, apalagi? Itulah semacam Tips untuk kita kontemplasikan. Sehingga bagaimana Tips untuk pemerintah republik ini yang secara tidak langsung mempunyai kewajiban mencerdaskan kehidupun bangsa seperti yang termaktub dalam UUD 45 kita. Bukankah begitu?.... Lalu PRnya adalah; perkaya bangsa ini dengan barbagai macam koleksi buku melalui perpustakaan-perpustakaan di sekolah maupun di kecamatan-kecamatan. Bicara perpustakaan, masyarakat sekarang menganggap bahwa perpustakaan adalah sebuah ruang sempit yang sepi dan penuh lorong berisi buku bak kuburan tua yang dihuni rumput liar serta pusara yang sudah patah-patah berserakan.


Berat memang bila kita memikirkan hal tersebut diatas. Serasa cita-cita menjadi pintar itu jauh diawang-awang. Belum lagi harga buku saat ini kian melangit, ditambah lagi persoalan biaya pendidikan yang sudah nyaris tak terjangkau khalayak bawah. Apakah hal demikian ini harus dibiarkan terus berlarut-larut hingga bangsa kita menjadi bangsa yang pseudo intelektual. Siapa lagi yang harus perduli dengan semua ini? Sedangkan wakil kita yang duduk di atas langit itu terus asyik dengan ulah silent movement (istilah Jawanya; kuping budeg moto picek itu). Coba kita memandang jauh seabad ke depan, jika saja kesakitan mental ini tidak bisa disembuhkan…… anak cucu kita lebih parah dari sekelompok komunitas yang hidup di Serenity Afrika itu? Cukup banggakah kita? Bangsa macam apa yang bakal menghuni republik Nusantara tercinta ini? Akhirnya mungkin hanya menadahkan tangan ke langit yang mampu kita lakukan. Itu pun kalau Yang Esa masih mau mendengar suara dari orang-orang setengah beradab yang menjadi petinggi-petinggi negeri khatulistiwa itu.. Moga-moga ini prediksi yang salah sekali… Amien.


@@@@@


 


 

kirim ke teman | versi cetak




Share |

 Berita "Berita Terbaru" Lainnya

Logo