Ki SLAMET Gundono-tampilkan-wayang-air-di-kediri

Sabtu, 28 Mei 2011 16:24:20 - oleh : admin
Rating: 5.0/10 (24 votes cast)
Share |

Ki SLAMET Gundono-tampilkan-wayang-air-di-kediri

"Pitakonku Marang Banyu"


Dengan menggunakan berbagai macam peralatan
yang berhubungan dengan air dan berangkat dari berbagai pertanyaan
tentang air, dalang muda Ki Slamet Gundono akan mementaskan pertunjukkan
wayang air dengan lakon "PITAKONKU MARANG BANYU" di hall stasiun televisi lokal Kediri, TV Dhoho, Minggu (29/5) pukul 19.00 WIB. Ditambah penampilan seniman dan budayawan di wilayah kediri seperti D.Aris R, Mbah War, Gecol dalam pentas "KEMBANG PLASTIK KALI KOTA"


Mengambil kisah pendek dari perang Bharatayuda, Gundono menceritakan
tokoh dari keturunan air yakni Bisma yang merupakan anak dari Dewi
Gangga dan Prabu Sentanu. "Gangga seperti yang kita kenal adalah nama
sebuah sungai di India, namun sebenarnya nama Gangga itu sendiri
menggambarkan keseluruhan sungai di dunia ini," jelasnya, Selasa (24/5)
di markas Komunitas Wayang Suket, Mojosongo, Solo.


Lakon yang dimainkan Gundono ini berbicara mengenai ketulusan hati
seseorang yang digambarkan melalui tokoh Bisma. Ketulusan yang dimiliki
Bisma diibaratkan sebagai air. Hal yang menghidupi manusia seringkali
atau bahkan selalu tidak dihargai oleh manusia itu sendiri. Menang dan
kalah menjadi sebuah prioritas dalam hidup daripada memilih sikap yang
tulus dan ikhlas terutama dalam menghadapi hal yang menyakitkan.


Dalam peperangan tersebut, pada akhirnya Bisma yang berada di pihak
Kurawa memilih untuk pergi mencari sinok ketimbang memikirkan siapa yang
menang dan siapa yang kalah. Sikap ini juga timbul karena Pandhawa yang
merupakan masih terikat dalam hubungan saudara, Bisma merupakan kakek
tiri dari Padhawa karena lahir dari ibu tiri Bisma.


Pada cerita ini disampaikan sebuah pertanyaan tentang sinok atau
sesuatu yang hidup dari air yakni alam. "Bisma ingin mencari tahu,
adakah sinok yang masih baik agar ia mampu bertahan hidup. Ada sebuah
penggambaran kerusakan ekosistem air sehingga alam pun sulit menerima
manusia," tandasnya.


Dari judul lakon tersebut, tertuang sebuah kepasrahan namun masih
didasari dengan rasa ingin tahu kemudian bertanya-tanya. "Saya berharap
pementasan ini akan merangsang penonton dan siapa saja termasuk saya
yang mendengar pertanyaan saya mengenai alam ini. Jadi jawabannya juga
bisa menurut hati nurani masing-masing," ujarnya. Konsepnya sendiri akan
menggunakan air, selang, sedotan, bath up, pecahan kaca, gelas, dan masih banyak lagi sebagai setting panggung dan propertinya.

kirim ke teman | versi cetak




Share |

 Berita "Berita Terbaru" Lainnya

Logo